Hasil Pencarian Anda

Silahkan Tik Yang Anda Cari

Kamis, 09 April 2009

NASIB PENDIDIKAN ISLAM PASCA PEMILU

Dalam tulisan saya terdahulu tentang Pendidikan Islam antara Kemenangan Politik dan Kekalahan Praktik, telah disimpulkan bahwa lahirnya UUSPN 2003 sesungguhnya menandakan kemenangan pendidikan Islam secara politis. Meski demikian, kemenangan ini tidak serta merta diikuti oleh kemenangan dan keunggulan pada tataran praktis operasional. Lalu bagaimana setelah PEMILU 2009, akan kah kemenangan politis ini terus bertahan dan menguat atau makin tergerus?

Jawaban untuk pertanyaan ini dapat dilihat dari hasil PEMILU yang baru tadi pagi dilaksanakan. Sampai saat tulisan ini dibuat, tak ada satu pun partai berbasis Islam (baca: agama) masuk dalam 3 besar perolehan suara (lihat di sini). Tentu saja ini baru analisis awal dan mentah. Tetapi jujur, secara pribadi saya cukup ketar-ketir dengan nasib pendidikan Islam pasca pemilu. Saya setuju dengan statemen bahwa PARTAI BERBASIS AGAMA TIDAK LAKU, RAKYAT MAKIN PRAGMATIS.

Sebagai suatu otokritik saya melihat ada 3 STIGMA PARTAI-PARTAI ISLAM sejauh ini
1. Adanya kasus KORUPSI yang menjerat beberapa anggota dewan dari partai ISlam. Memalukan!
2. Adanya perpecahan dari banyak partai Islam. Sungguh memalukan dan sangat tidak mencerminkan ajaran ISlam dalam menyikapi perbedaan.
3. Sikap yang justru pragmatis saat menentukan KOALISI, dan memperjuangkan aspirasi. Sungguh sangat jauh dari sebuah IDEALISME PERJUANGAN. Jadi jangan salahkan rakyat kalau tidak dipilih. SALAH SENDIRI, KAN???

Saya juga sangat setuju dengan statemen seorang kyai sepuh ketua MUI di kabupaten tempat saya tinggal. Menurutnya, sebenarnya TIDAK ADA PARTAI ISLAM, paling juga PARTAI UMAT ISLAM. Ya setuju sekali! Sebab sebuah partai Islam harus benar-benar memperjuangkan sebuah tatanan sistem yang membuat ISlam bisa diterapkan secara leluasa dan menghadirkan kenyamanan (baca: rahmat) dan kebaikan bagi seluruh komponen bangsa bahkan dunia (baca: rahmatan lil alamin). Partai mereka hanya partai yang didukung oleh sebagian umat Islam bukan 100 % untuk perjuangan Islam. Mungkin ada baiknya Anda ikut merenungkan kembali tawaran saya tentang PARTAI GURU INDONESIA

Tulisan di bawah ini mungkin menarik untuk kita jadikan bahan perbandingan

3 Besar hasil hitung cepat atau quick count sejumlah lembaga survei menunjukan keunggulan partai nasionalis. Mereka yakni Partai Demokrat (PD), PDIP, dan Partai Golkar. Sedang partai berbasis agama hanya PKS yang mencuat.

"Partai agama semakin menyusut. Politik kian semakin pragmatis," kata pengamat politik Arie Sujito saat dihubungi melalui telepon, Kamis (9/4/2009).

Ketika politik semakin pragmatis, rakyat pun demikian. Mereka cenderung memilih partai yang terlihat relatif terbuka.

"Kecenderungan politik di Indonesia, identitas tidak begitu laku. Dan meskipun 3 partai besar itu bukan tipe partai ideal, tapi partai yang selama ini mampu menjawab trend politik," jelasnya.

Dia menjelaskan, selama ini pun partai-partai yang berbasis agama hanya sekedar simbol saja. Tapi pada prakteknya tetap seperti pada partai politik pada umumnya. Dan ini kemudian yang dilihat rakyat.

"Sampelnya, mereknya agama. Tapi cara mereka berkoalisi dan menyampaikan agenda tidak mencerminkan partai agama, tapi partainya pragmatis," jawabnya.

Demikian juga dengan PKS, menurutnya bila kemudian partai ini tergoda dengan hal yang pragmatis, maka nasibnya akan sama dengan partai-partai berbasis agama lainnya yang mengalami penurunan, atau tidak lolos sama sekali.

"Lama-lama PKS akan mengalami hal sama, bila tergoda dengan koalisi tidak jelas dan melayani kepentingan elit jangka pendek," imbuhnya.

Tapi yang perlu diingat, menurut Arie, dari 3 partai besar ini PDIP terlihat tidak melakukan pendekatan ke bawah, Golkar belum mampu lepas dari Orbaisme dan ketiadaan, dan Demokrat hanya mengandalkan figur SBY.

"Pemilu di 2009 ini kudeta kaum borjuasi dalam dunia politik. Yang berkuasa kaum borjuis, dan ini harus menjadi bahan refleksi," tutupnya.
sumber (www.pemilu.detiknews.com)
Selamat merenung dan mencari jawaban!



READ MORE - NASIB PENDIDIKAN ISLAM PASCA PEMILU

Rabu, 08 April 2009

TDW University - Rahasia Menjadi Kaya dan Bertumbuh Semakin Kaya

Kekayaan adalah sama dengan kemampuan untuk terus bertahan hidup
dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja.

Keterangan:

Penelitian yg dilakukan oleh Gallup International menunjukkan bahwa
rata-rata eksekutif ibukota & Asia kaya mampu bertahan 90 hari dengan
gaya hidup yang ada apabila besok dia berhenti kerja. Setelah itu mereka
harus mulai menjual asset atau berhutang.

Kaya adalah relatif. Sebagian orang merasa kaya ketika mempunyai uang
10 juta rupiah. Sebagian orang merasa tidak kaya walaupun sudah memiliki
uang 10 milyar. Menurut majalah Forbes kaya adalah orang yang mempunyai
penghasilan 1 juta US keatas setahunnya. Sedangkan menurut Robert T. Kiyosaki
yang mengutip dari gurunya Buckminster Fuller bahwa kaya adalah bukan berapa
besar active income anda melainkan kaya adalah apabila passive income lebih
besar dari biaya hidup. Yang dimaksud passive income disini adalah uang yang
masuk tanpa harus bekerja.

Sebagai perbandingan Mike Tyson, dia menghasilkan 300 juta USD sewaktu bertinju,
tapi hari ini bangkrut dan masih berhutang 35 juta USD. Maka sebetulnya Mike Tyson
bukan termasuk kaya, termasuk pula di dalam kategori orang yang bukan kaya
adalah orang-orang yang punya penghasilan 1 Juta USD/tahun namun pengeluarannya
1,2 juta USD/tahun.

Pertanyaan penting kali ini adalah:

1.) Bila besok anda berhenti kerja, berapa lama anda dapat bertahan hidup dengan
gaya hidup anda sekarang tanpa harus menjual asset-asset anda?

2.) Lalu bagaimana kita bisa kaya menurut versi Robert T. Kiyosaki dimana passive
income lebih besar dari biaya hidup?

Jadi sebetulnya menurut Robert T. Kiyosaki, kaya adalah bagaimana menciptakan
passive income lebih besar dari biaya hidup.

Cara membuat passive income:

- Royalti dari hak cipta
- Rumah yang disewakan/ dikostkan
- Saham-saham yang menghasilkan deviden
- Reksadana
- Usaha-usaha yang menghasilkan

Buatlah rangkaian rencana sumber pasif income anda. Sesuatu yang anda sukai dan dapat anda

kerjakan sementara anda mengerjakan apa yang anda kerjakan sekarang.
Dan untuk mendapatkan materi tambahan eBook "24 Prinsip Miliarder yang Mencerahkan"
senilai Rp. 250.000,- oleh Tung Desem Waringin bisa Anda dapatkan di :
TDW University - Tempat Anda merevolusi Hidup , Bisnis dan Keuangan Anda









TDW University






READ MORE - TDW University - Rahasia Menjadi Kaya dan Bertumbuh Semakin Kaya

Senin, 06 April 2009

BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN?: Sebuah Penelitian(Part-3)

3. Karakteristik Sekolah Unggulan

Pembahasan para pakar tentang sekolah efektif mengerucut pada identifikasi ciri dan karakter yang dapat membedakannya dengan sekolah yang lain. Sekalipun definisi sekolah efektif secara sepintas telah menggambarkan ciri-ciri yang harus ada dalam sekolah efektif, namun pengkajian secara khusus terhadap karakteristik sekolah efektif mutlak diperlukan. Hal ini mengingat efektifitas sekolah haruslah bisa diukur untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dirumuskan. Pengukuran efektifitas sekolah ini memerlukan identifikasi terhadap karakteristik sekolah efektif yang dijadikan indikator pencapaian.

Dalam mengidentifikasi karakteristik sekolah efektif terdapat beberapa usulan yang berbeda. Perbedaan tersebut tergantung pada variabke yang ditunjukkan para ahli pada sistem sekolah. Penentuan variabel ini dipengaruhi oleh filsafat yang mendasari pandangan para ahli pendidikan mengenai tujuan dan fungsi sekolah.[1] School Effectivness in Developing Countries, sebuah rangkuman riset tentang sekolah efektif di negara-negara berkembang mengidentifikasi sembilan variabel sekolah efektif, yaitu kualitas guru, ketersedian bahan dan buku, kurikulum, metode pembelajaran, ujian, fasilitas sekolah, organisasi sekolah, manajemen pendidikan, dan kemampuan mengajar.[2] Sementara Peter Martimore yang dianggap sabagai penggagas dan peneliti sekolah efektif menginventarisir 11 karakter kunci sekolah efektif[3] yang meliputi,

1. Profesional Leadership. Kepemimpinan adalah faktor kunci pertama untuk mencapai sekolah yang efektif.

2. Shared Vision and Goals. Karakteristik ini merujuk kepada rumusan visi dan tujuan yang jelas yang dijadikan panduan bagi komponen sekolah. Visi tersebut bukan hanya dirumuskan, tetapi juga disosialisasikan sehingga semua komponen sekolah mengetahui, memahami dan memberikan dukungan untuk pencapaiannya.

3. Learning Environment, yaitu lingkungan belajar yang kondusif.

4. Contrentation on Teaching and Learning. Sekolah efektif memiliki fokus utama terhadap pengajaran dan pembelajaran. Dalam konteks ini waktu sekolah benar-benar dimaksimalkan untuk belajar dan pencapaian prestasi.

5. Purposeful Teaching. Karakter ini mencakup kejelasan target dan tujuan, pengorganisasian yang efisien, struktur pembelajaran, dan praktek pengajaran yang adaptif.

6. High Expectation. Adanya harapan yang tinggi dari masyarakat terhadap sekolah. Harapan ini seringkali memiliki korelasi dengan prestasi. Semakin tinggi harapan masyarakat terhadap sebuah sekolah, semakin efektif sekolah tersebut.

7. Positive Reinforcement. Sekolah efektif ditentukan juga oleh adanya penguatan dari sekolah terhadap komponen sekolah. Penguatan dimaksud meliputi keteladanan, disiplin dan timbal balik.

8. Monitoring Progress. Sekolah efektif adalah sekolah yang selalu memonitor perkembangan yang dicapainya. Monitoring ini mencakup performance dan juga sekolah.

9. Pupil Right dan Responsibilities. Pengakuan terhadap hak-hak siswa dan melibatkannya dalam tanggung jawab pencapaian tujuan sekolah. Terkait hal ini sekolah membangkitkan percaya diri siswa, membangun partisipasi siswa dan memberikan ruang untuk melakukan kontrol terhadap sekolah.

10. Home-School Partnership. Kemitraan yang antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat menjadi faktor kunci berikutnya dari sekolah efektif.

11. Learning Organisation. Sekolah eekftif adalah sebuah organisasi belajar. Faktor ini menunjuk kepada kesadaran guru dan staf sekolah untuk selalu belajar.[4]

Untuk menjadikan karakteristik tersebut sebagai variabel-variabel yang dapat difungsikan secara operasional sehingga efektifitas sekolah menjadi kinerja yang terukur ditampilkan dalam tabel berikut sebagai dikutip dari formula yang diadaptasi dari Squires, Scheerens, Mackenzies, Edmonds, Townsend, Henevand, Bosker dan Guldemon[5]





[1] Lihat Aan Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta : Bumi Aksara, 2006) h. 53

[2] Lihat Departmen for International Development, School Effevtiveness in Developing Countris, h. 53-54 artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.dfid.gov.uk/Pubs/files/schooleffectdevcountriesedpaper01.pdf

[3] Lihat Pam Sammons, Josh Hilamann dan Peter Mortimore, Key Characteristics of Effective Schools: A Review of School Effectiveness Research (London: Institute of Education University of London, 1995) h. 8-23. Bandingkan dengan ACT Council of P&C Association, Caharacteristics of Effective School, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.schoolparents.canberra.net.au/Characterisitcs%20of%20Effective%20Schools%20-%20final.pdf ; Gary Gottfredson, The Effective School Battery (Marriotsevile: Gottfredson Association Inc, 1999), h. 11-14; Barbara O Taylor, Case Studies in Effective School Research,(Madison: Winconsin Center for Education Research) h. 10 ; dan Carter Ward dan Arthur Griffin, Five Characteristic of Effective School Board, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.centerforpubliceducation.org/site/c.kjJXJ5MPIwE/b.1505871/k.5F50/The_Role_of_School_Boards.htm ; Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik (Jakarta: Bumi Aksara, 2006) h. 61-62

[4] Terkait dengan hal faktor penulis teringat dengan pernyataan menarik dari Prof. DR. M Malik Fadjar dalam mata kuliah Isu-Isu Pendidikan Islam Kontemporer. Ketika beliau ditanya mengapa masih mengajar padahal sudah mulai tua? Beliau menjawab, “Saya masih mengajar karena saya masih bisa belajar.” Sikap-sikap guru yang seperti itulah rupanya yang akan mengantarkan sekolah tempat kita bertugas menjadi sekolah efektif.

[5] Lihat Aan Komariah, Visionary Leadership, h. 49-51


READ MORE - BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN?: Sebuah Penelitian(Part-3)

BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN??? (PART-2)

Perkembangan SMA Islam Unggulan di Indonesia

Embrio SMA unggulan di Indonesia bermula dari Pilot Project pemerintah melalui Depdikbud saat itu untuk menyeleksi siswa berbakat dari beberapa sekolah sample pada tahun 1980 dan 1982. Dari hasil seleksi ini pada tahun 1986 pemerintah mengirim 50 melalui Balitbang Depdikbud dan 100 orang melalui BPPT untuk belajar belajar di luar negeri. Kemudian pada tahun 1990 Yayasan Jenderal Sudirman bekerja sama dengan Yayasan Tamansiswa menyelenggarakan SMA Plus Taruna Nusantara di Magelang. Input siswa sekolah ini adalah siswa-siswa terbaik yang terpilih dari seluruh nusantara. Empat tahun setelah itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdikbud mengeluarkan surat keputusan tentang penyelenggaraan SMA Plus/Unggulan. Dari sinilah lembaga-lembaga pendidikan negeri maupun swasta secara antusias merespon kebijakan tersebut. Maka dimulailah era sekolah unggulan.[1]

Perkembangan selanjutnya dari sekolah unggulan ini memetakan sekolah unggulan ke dalam 3 tipe. Pertama, sekolah yang menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Meskipun proses belajar-mengajar sekolah tersebut tidak luar biasa bahkan cenderung ortodok, namun dipastikan karena memilih input yang unggul, output yang dihasilkan juga unggul. Kedua, sekolah yang menawarkan fasilitas yang serba mewah, dengan bayaran yang sangat tinggi. Prestasi akademik yang tinggi bukan menjadi acuan input untuk diterima di sekolah semacam ini. Sekolah dengan tipe seperti ini biasanya mengandalkan pola pembelajaran alternative dari perkembangan teori-teori pendidikan kontemporer. Ketiga, sekolah yang menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Mereka menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut (input ) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi.[2]

Dalam kaitannya dengan SMA Al-Ma’soem, secara historis pendiriannya ada pada momentum wacana SMA Plus atau Unggulan sedang mengidola. Kondisi seperti tentu saja sangat menguntung SMA Al-Ma’soem sebagai sebuah sekolah swasta baru. Dari penjelasan latar belakang pendirian SMA Al-Masoem dapat ditelusuri keinginan untuk tampil sebagai yang seirama dengan wacana yang saat itu berkembang. Disebutkan bahwa Yayasan Pendidikan Al-Masoem didirikan sebagai antisipasi atas perpindahan penduduk Kota Bandung yang berstatus sebagai keluarga dosen, terutama dosen UNPAD ke Jatinangor sebagai Kota Pendidikan dan Rancaekek sebagai daerah perumahan dan industri. Kondisi tersebut di atas menuntut kehadiran sekolah yang berkualitas.[3] Sekolah yang berkualitas, itulah cikal bakal yang mendorong SMA Al-Ma’soem semakin memposisikan diri sebagai sekolah unggulan.

SMA Al-Ma’soem yang lahir dalam konteks historis seperti itu cocok dengan tipe ketiga sekolah unggulan yang banyak berkembang. SMA Al-Ma’soem tidak mengadakan seleksi ketat terhadap calon siswanya. Hampir semua calon siswa yang mendaftarkan diri ke SMA Al-Ma’soem dapat diterima selama mereka dapat melafalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan kuota masih tersedia. SMA Al-Ma’soem bukan sekolah ekslusif yang khusus bagi siswa dengan IQ tinggi. Di dukung dengan suasana sekolah yang sejuk, asri, dan hening, SMA Al-Ma’soem menekankan pada proses pembelajaran yang kondusif dan optimal. Orientasi terhadap pembelajaran ini dapat dibaca dari kebijakan sekolah yang tidak metolerir jam kosong meskipun guru mata pelajaran berhalangan hadir. Telah diciptakan sebuah mekanisme sedemikian rupa sehingga setiap jam pelajaran selalu terisi.[4]


[1] Lihat Halfian Lubis, Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia, h. 64-70, Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru (Jakarta: Paramadina, 2001) h. 5

[2] Lihat Administrator, Tipe Sekolah Unggulan, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.darmabangsa.sch.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=35, bandingkan dengan Muhamad Ikhsan, Sekolah Unggulan, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://teknologipendidikan.wordpress.com/category/artikel/page/3/

[3] Lihat, Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, Setahun Bersama Al-Ma’soem, (Bandung: Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, 2007) h. 1

[4] Dirangkum dari hasil wawancara dengan Sumartono, PKS Kurikulum SMA Al-Ma’soem pada tanggal 8 Mei 2008




READ MORE - BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN??? (PART-2)

BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN?; Sebuah Penelitian (Part-1)


PROLOG

Berkenaan dengan paparan konsep sekolah efektif sebagai alat analisa sekolah unggulan yang menjadi tema makalah ini, berikut ini akan dipaparkan definisi, perkembangan, karakteristik, dan pengukuran efektitas sekolah. Referensi utama pembahasan ini berbasis pada internet resources yang sengaja dipilih untuk dapat melihat peta diskusi dan perkembangan mutakhir wacana sekolah efektif tersebut, di samping alasan praktis pragmatis sebagai bentuk pemanfaatan ICT (Information and Technology Information) dalam riset pendidikan.

1. SEKOLAH UNGGULAN = SEKOLAH EFEKTIF?

Sebagai telah diperkenalkan di awal makalah ini bahwa term sekolah unggulan adalah “terjemah bebas” dari effective school. Dalam diskursus ilmu pendidikan, esensi sekolah unggulan merujuk kepada term effective, efficience, develop, accelerate, essential dan high performance school.[1] Sedangkan excellent school yang sepadan dengan sekolah unggulan sangat jarang digunakan. Poster misalnya, meskipun memberikan judul Creating an Excellent School untuk bukunya, namun dalam content nya sendiri selalu merujuk pada Effective School. Dalam pada itu, maka penulis lebih memilih effective school sebagai pijakan terminologi sekolah unggulan. Namun demikian, pemadanan term sekolah unggulan dengan efficience school dan excellent school memiliki dimensinya tersendiri yang juga patut dikaji.

Gagasan sekolah efektif dipopulerkan oleh Ronald Edmonds[2]. Edmonds mengusung tesis bahwa sifat sekolah merupakan faktor penentu yang penting terhadap prestasi akademik. Kesimpulan Edmonds ini adalah antitesis terhadap Coleman yang meragukan kemampuan sekolah dalam mencerdaskan anak didik.[3] Merujuk pada penelitian Edmonds sekolah efektif dirumuskan sebagai sekolah yang mengorganisasikan dan memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk menjamin semua siswa bisa mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah.[4] Relevan dengan itu Barbara O Taylor mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang berakar pada tiga asumsi dasar yaitu semua siswa dapat belajar, memiliki fokus terhadap pembangunan organisasi sekolah sebagai unit perubahan, dan semua proses tersebut didorong oleh manajemen berbasis sekolah.[5] Sementara Cyril Poster menambahkan satu syarat utama sekolah efektif yaitu target dan tujuan yang jelas yang hendak dicapai sekolah. Menurutnya sebuah sekolah efektif tidak harus unggul dalam pengertian menjadi yang terbaik di antara sesamanya. Tetapi yang terpenting adalah mempunyai tujuan dan target untuk dicapai.[6]

Substansi yang dapat disimpulkan sebagai pengertian sekolah efektif dari paparan terdahulu adalah sekolah yang mampu merumuskan tujuan dan misinya dengan baik dan mengupayakan ketercapaiannya dengan memberdayakan seluruh komponen sekolah sejak input, proses, sampai out put secara optimal. Kondisi seperti ini lah yang memungkin seluruh siswa dapat benar-benar belajar dan melejitkan potensi dirinya. Tanpa harus mengunggulkan dirinya dengan melabeli diri sebagai sekolah unggulan, sekolah efektif adalah sekolah yang eksis dan survive di tengah persaingan global dewasa ini.

Terkait dengan itu, keunggulan, yang disematkan kepada sekolah-sekolah tertentu di Indonesia masih memicu kontroversi di kalangan akademisi. Unggul berarti lebih baik dari yang lain. Unggul juga menunjukkan adanya puncak-puncak prestasi yang hanya bisa dicapai oleh orang yang paling kompeten. Unggul juga merujuk pada kriteria dan urutan peringkat dalam skala yang ditentukan suatu pihak yang belum tentu diterima dengan senang hati dan disepakati. Patut dikritisi, ketika berbicara sekolah unggulan, unggul dalam hal apa? Tiap sekolah sebenarnya terlihat unggul dalam beberapa hal dan tidak pada beberapa hal lainnya. Lebih lanjut, patut dikritisi juga, siapa yang mendefinisikan keunggulan dalam konteks ini? Agenda siapa yang dilayani? Perangkat apa yang dipergunakan untuk mempertimbangkan cakupan keunggulan itu?[7]

Depdiknas sendiri sebagai isntitusi yang paling kompeten dalam menangani masalah pendidikan di Indonesia belum mengumumkan adanya sekolah unggulan. Yang dilakukan Depdiknas lebih pada memetakan peringkat sekolah melalui hasil Ujian Nasional dan pengelompokkan sekolah ke dalam Sekolah Standara Nasional (SSN) dan Sekolah Standar Internasional (SSI).[8] Pun demikian, ketika status sekolah unggulan ini dikonfirmasikan kepada SMA Al-Ma’soem, sangat terbaca dengan jelas keengganan SMA Al-Ma’soem melabeli dirinya dengan sekolah unggulan. Bagi SMA Al-Ma’soem, status unggulan adalah labeling yang diberikan masyarakat terhadap kinerjanya. Unggul atau tidaknya SMA Al-Ma’soem masyarakat yang akan menilai. SMA Al-Ma’soem hanya berkomitmen mewujudkan sekolah yang berkualitas dan memberikan layanan yang terbaik.[9] Komitmen menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas di SMA Al-Ma’soem juga ditegaskan dalam latar belakang pendiriannya.[10]

Refleksi dari perdebatan semantik penggunaan term sekolah unggulan dan kecenderungan SMA Al-Ma’soem untuk menghindarinya adalah pentingnya merumuskan tujuan yang menjadi pijakan bagi semua tahapan berikutnya. Tidak jarang ditemukan sekolah yang masih bingung merumuskan dan mengomunikasikannya. Poster misalnya, menyampaikan kritik bahwa tujuan sekolah sering terlihat hambar, tidak menarik, verbalistik, serta jarang memiliki arah ungkapan yang memiliki arah ungkapan yang dapat mengilhami usaha atau kejutan besar.[11] Tujuan juga sering dianggap enteng dan sepele. Kemampuan merumuskan tujuan dengan baik juga mengisyaratkan kemandirian sekolah. Hanya sekolah yang benar-benar otonom yang mampu mengekspresikan kemauan dirinya. Berdasarkan ini maka pembicaraan sekolah efektif akan selalu terkait dengan aplikasi Manajemen Berbasis Sekolah.



[1] Lihat ERIC (Education Resources Information Center), abstract of School Based Manajemen:Organizing for High Performance, author Susan Albers Mohrman, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://eric.ed.gov/ERICWebPortal/Home.portal?_nfpb=true&ERICExtSearch_SearchValue_0=School+Based+Management%3A+Organizing+for+High+Performance&searchtype=basic&ERICExtSearch_SearchType_0=ti&_pageLabel=RecordDetails&objectId=0900019b800a433a&accno=ED383075&_nfls=false

[2] Ronald Edmond adalah Direktur pada The Center for Urban Studies Harvard University. Lihat Association of Effective Schools.Inc, What is Effective School Risearch, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.mes.org/esr.html

[3] Lihat Cyril Poster, Creating an Effective School, h. 1 dan 11

[4] Lihat Association of Effective Schools.Inc, Correlate of Effective School, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.mes.org/esr.html

[5] Lihat Barbara O Taylor, Case Studies in Effective School Research,(Madison: Winconsin Center for Education Research) h. 10

[6] Lihat Cyril Poster, Creating an Excellent School, h. 213

[7] Terkait dengan pijakan terminologi sekolah unggulan ini, Nurkhalis memberikan kritik bahwa sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Lihat Nurkhalis, Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul, artikel diunduh tanggal 30 Mei 2008 dari http://re-searchengines.com/nurkolis3.html (kumpulan artikel dalam situs resmi Pendidikan Network).

[8] Lihat Republika, Mencari Sekolah Terbaik, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://http//www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=320052&kat_id=506

[9] Disarikan dari hasil wawacara dengan Sumartono, PKS Kurikulum SMA Al-Ma’soem pada tanggal 8 Mei 2008

[10] Lihat, Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, Setahun Bersama Al-Ma’soem, (Bandung: Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, 2007) h. 1

[11] Lihat, Cyril Poster, h. 216



READ MORE - BENARKAH ADA SEKOLAH UNGGULAN?; Sebuah Penelitian (Part-1)