Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Sumber lain mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007). Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Keunggulan Lokal (KL) adalah suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan komparatif.
Keunggulan lokal harus dikembangkan dari potensi daerah. Potensi daerah adalah potensi sumber daya spesifik yang dimiliki suatu daerah. Sebagai contoh potensi kota Batu Jawa Timur, memiliki potensi budi daya apel dan pariwisata. Pemerintah dan masyarakat kota Batu dapat melakukan sejumlah upaya dan program, agar potensi tersebut dapat diangkat menjadi keunggulan lokal kota Batu sehingga ekonomi di wilayah kota Batu dan sekitarnya dapat berkembang dengan baik.
Kualitas dari proses dan realisasi keunggulan lokal tersebut sangat dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia, yang lebih dikenal dengan istilah 7 M, yaitu Man, Money, Machine, Material, Methode, Marketing and Management. Jika sumber daya yang diperlukan bisa dipenuhi, maka proses dan realisasi tersebut akan memberikan hasil yang bagus, dan demikian sebaliknya. Di samping dipengaruhi oleh sumber daya yang tersedia, proses dan realisasi keunggulan lokal juga harus memperhatikan kondisi pasar, para pesaing, substitusi (bahan pengganti) dan perkembangan IPTEK, khususnya perkembangan teknologi. Proses dan realisasi tersebut akan menghasilkan produk akhir sebagai keunggulan lokal yang mungkin berbentuk produk (barang/jasa) dan atau budaya yang bernilai tinggi, memiliki keunggulan komparatif, dan unik.
Dari pengertian keunggulan lokal tersebut diatas maka Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL) di SMA adalah pendidikan/program pembelajaran yang diselenggarakan pada SMA sesuai dengan kebutuhan daerah, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam, sumber daya manusia, geografis, budaya, historis dan potensi daerah lainnya yang bermanfaat dalam proses pengembangan kompetensi sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik.
Pembahasan para pakar tentang sekolah efektif mengerucut pada identifikasi ciri dan karakter yang dapat membedakannya dengan sekolah yang lain. Sekalipun definisi sekolah efektif secara sepintas telah menggambarkan ciri-ciri yang harus ada dalam sekolah efektif, namun pengkajian secara khusus terhadap karakteristik sekolah efektif mutlak diperlukan. Hal ini mengingat efektifitas sekolah haruslah bisa diukur untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dirumuskan. Pengukuran efektifitas sekolah ini memerlukan identifikasi terhadap karakteristik sekolah efektif yang dijadikan indikator pencapaian.
Dalam mengidentifikasi karakteristik sekolah efektif terdapat beberapa usulan yang berbeda. Perbedaan tersebut tergantung pada variabke yang ditunjukkan para ahli pada sistem sekolah. Penentuan variabel ini dipengaruhi oleh filsafat yang mendasari pandangan para ahli pendidikan mengenai tujuan dan fungsi sekolah.[1] School Effectivness in Developing Countries, sebuah rangkuman riset tentang sekolah efektif di negara-negara berkembang mengidentifikasi sembilan variabel sekolah efektif, yaitu kualitas guru, ketersedian bahan dan buku, kurikulum, metode pembelajaran, ujian, fasilitas sekolah, organisasi sekolah, manajemen pendidikan, dan kemampuan mengajar.[2] Sementara Peter Martimore yang dianggap sabagai penggagas dan peneliti sekolah efektif menginventarisir 11 karakter kunci sekolah efektif[3] yang meliputi,
1.Profesional Leadership. Kepemimpinan adalah faktor kunci pertama untuk mencapai sekolah yang efektif.
2.Shared Vision and Goals. Karakteristik ini merujuk kepada rumusan visi dan tujuan yang jelas yang dijadikan panduan bagi komponen sekolah. Visi tersebut bukan hanya dirumuskan, tetapi juga disosialisasikan sehingga semua komponen sekolah mengetahui, memahami dan memberikan dukungan untuk pencapaiannya.
3.Learning Environment, yaitu lingkungan belajar yang kondusif.
4.Contrentation on Teaching and Learning. Sekolah efektif memiliki fokus utama terhadap pengajaran dan pembelajaran. Dalam konteks ini waktu sekolah benar-benar dimaksimalkan untuk belajar dan pencapaian prestasi.
5.Purposeful Teaching. Karakter ini mencakup kejelasan target dan tujuan, pengorganisasian yang efisien, struktur pembelajaran, dan praktek pengajaran yang adaptif.
6.High Expectation. Adanya harapan yang tinggi dari masyarakat terhadap sekolah. Harapan ini seringkali memiliki korelasi dengan prestasi. Semakin tinggi harapan masyarakat terhadap sebuah sekolah, semakin efektif sekolah tersebut.
7.Positive Reinforcement. Sekolah efektif ditentukan juga oleh adanya penguatan dari sekolah terhadap komponen sekolah. Penguatan dimaksud meliputi keteladanan, disiplin dan timbal balik.
8.Monitoring Progress.Sekolah efektif adalah sekolah yang selalu memonitor perkembangan yang dicapainya. Monitoring ini mencakup performance dan juga sekolah.
9.Pupil Right dan Responsibilities. Pengakuan terhadap hak-hak siswa dan melibatkannya dalam tanggung jawab pencapaian tujuan sekolah. Terkait hal ini sekolah membangkitkan percaya diri siswa, membangun partisipasi siswa dan memberikan ruang untuk melakukan kontrol terhadap sekolah.
10.Home-School Partnership. Kemitraan yang antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat menjadi faktor kunci berikutnya dari sekolah efektif.
11.Learning Organisation. Sekolah eekftif adalah sebuah organisasi belajar. Faktor ini menunjuk kepada kesadaran guru dan staf sekolah untuk selalu belajar.[4]
Untuk menjadikan karakteristik tersebut sebagai variabel-variabel yang dapat difungsikan secara operasional sehingga efektifitas sekolah menjadi kinerja yang terukur ditampilkan dalam tabel berikut sebagai dikutip dari formula yang diadaptasi dari Squires, Scheerens, Mackenzies, Edmonds, Townsend, Henevand, Bosker dan Guldemon[5]
[1] Lihat Aan Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif (Jakarta : Bumi Aksara, 2006) h. 53
[3]Lihat Pam Sammons, Josh Hilamann dan Peter Mortimore,Key Characteristics of Effective Schools: A Review of School Effectiveness Research (London: Institute of Education University of London, 1995) h. 8-23. Bandingkan dengan ACT Council of P&C Association, Caharacteristics of Effective School, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.schoolparents.canberra.net.au/Characterisitcs%20of%20Effective%20Schools%20-%20final.pdf ; Gary Gottfredson, The Effective School Battery (Marriotsevile: Gottfredson Association Inc, 1999), h. 11-14;Barbara O Taylor, Case Studies in EffectiveSchool Research,(Madison: WinconsinCenter for Education Research)h. 10 ; dan Carter Ward dan Arthur Griffin, Five Characteristic of Effective School Board, artikel diunduh pada tanggal 30 Mei 2008 dari http://www.centerforpubliceducation.org/site/c.kjJXJ5MPIwE/b.1505871/k.5F50/The_Role_of_School_Boards.htm ; Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik (Jakarta: Bumi Aksara, 2006) h. 61-62
[4] Terkait dengan hal faktor penulis teringat dengan pernyataan menarik dari Prof. DR. M Malik Fadjar dalam mata kuliah Isu-Isu Pendidikan Islam Kontemporer. Ketika beliau ditanya mengapa masih mengajar padahal sudah mulai tua? Beliau menjawab, “Saya masih mengajar karena saya masih bisa belajar.” Sikap-sikap guru yang seperti itulah rupanya yang akan mengantarkan sekolah tempat kita bertugas menjadi sekolah efektif.
[5] Lihat Aan Komariah, Visionary Leadership, h. 49-51